Tuesday, August 2, 2011

Ayo Kita Kenalan!

Hallo semua! Kami anak-anak Terminal Hujan, dan ini kisah kami :)

Sekitar bulan Juni 2011, salah seorang dari pengajar Terminal Hujan, Anggun, mencari informasi tentang tempat dimana ia bisa mengajar secara sukarela. Kebetulan Anggun mendapat informasi tentang Drg. Wan Aisyah Grenie atau yang biasa dipanggil Umi Awan --pendiri dan pembina anak-anak Terminal Hujan-- di koran lokal Radar Bogor. Dengan bantuan bapaknya, Anggun  berhasil mendapatkan nomor telepon Umi Awan dari seorang wartawan koran tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan kontak Umi, Anggun kemudian berbincang-bincang dengan Umi dan ibu-ibu PKK. Ternyata, daerah binaan Umi tersebut sudah dibina selama 5 tahun. Dalam pertemuan itu, Umi sempat mengatakan bahwa daerah binaan tersebut mungkin akan Umi serahkan kepada Anggun untuk dibina lebih lanjut. Maka, dalam pertemuan kedua dengan Umi, Anggun juga mengajak Mario bergabung.

Dalam pertemuan kedua, Umi mengajak Anggun dan Mario untuk survey tempat mengajar. Saat itu Anggun dan Mario menyempatkan untuk membuat draft kurikulum pengajaran sebelum melakukan survey, supaya mereka tahu akan melakukan apa saja ketika bertemu dengan anak-anak Terminal Hujan nantinya. Kebetulan, hari itu Sela, teman Anggun, sms untuk sebuah keperluan. Pada akhirnya, Sela malah ikut survey bersama Anggun dan Mario, serta resmi bergabung menjadi staf pengajar Terminal Hujan.

Nama “Terminal Hujan” itu sendiri merupakan hasil brain storming ketiga pengajar itu. Nama “Terminal Hujan” dirasa cukup mencerminkan anak-anak yang tinggal di daerah Kampung Babakan tersebut. Kampung mereka berada di belakang Terminal Baranang Siang, dan berasal dari Bogor yang terkenal sebagai Kota Hujan; maka jadilah Terminal Hujan! Sederhana, tapi cukup mengena bukan? :)

Sejak saat itu, pengajar-pengajar yang lain mulai bergabung. Ada Indah, Juli, Adizul, Titi, Ira, Qorry, Zeno, Ami, Dhany, Acil, dan Fahris. Pengajar lain yang juga pernah ikut berpartisipasi adalah Devy, Nisa, Puji, Citra, Nadia, dan Litia.

Para pengajar Terminal Hujan pada dasarnya mencoba melakukan character building untuk anak-anak Terminal Hujan. Agenda pembentukan karakter ini dimaksudkan agar anak-anak marginal seperti mereka pun dapat menjadi anak-anak yang lebih percaya diri, disiplin, sopan, dan berani memiliki cita-cita yang tinggi. Jadi, pelajaran yang diajarkan bukanlah mengajar mata pelajaran seperti yang guru-guru lakukan di sekolah. Character building dilakukan dengan berbagai hal; seperti bermain, bernyanyi, belajar presentasi, dan sebagainya. Yang terpenting adalah melakukan kegaiatan yang bermanfaat dan tidak membosankan.

Anggota Terminal Hujan sendiri adalah anak-anak dari usia TK hingga SMP. Mereka sangat aktif dan ceria sehingga terkadang membuat kewalahan para pengajarnya :D Sebelumnya, aktivitas Terminal Hujan dilakukan di lapangan terbuka dekat kampung Babakan. Syukurlah pada akhirnya pak Lurah berbaik hati meminjamkan Kelurahan sebagai tempat kami beraktivitas setiap sabtu atau minggu, sehingga hujan dan panas tidak lagi menjadi penghalang kami berkegiatan.

Anak-anak Terminal Hujan memang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Beberapa dari mereka harus mengamen di jalanan atau ikut orang tua mereka berjualan untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi mereka tetaplah anak-anak yang punya hak untuk berekspresi, mengembangkan potensi mereka masing-masing, dan menikmati masa kecil mereka dengan bahagia. Terminal Hujan hadir untuk mewadahi hak-hak tersebut, mencoba menjadi bagian dari proses anak-anak tersebut menjadi putra-putri bangsa yang mebanggakan. Anak-anak Terminal Hujan pasti bisa!

Salam Terminal Hujan J


inilah kami! :)

1 comment:

  1. Hai Brother and sister, saya mau kenalan dan mau bermitra. bagaimana caranya? ada no telp yang bisa saya hubungi ? Thanks. Email saya : sam.fight@gmail.com

    ReplyDelete