Tuesday, July 30, 2013

Program Kakak Asuh Terminal Hujan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Halo semuanya.. Terminal Hujan kali ini mengajak kepedulian teman-teman semuanya melalui program Kakak Asuh.

Apa itu program Kakak Asuh?
Program Kakak Asuh merupakan program donasi uang yang dikhususkan untuk pendidikan formal adik-adik Terminal Hujan.

Bagaimana bentuk donasinya?
Program Kakak Asuh ini memiliki beberapa bentuk paket, yaitu:
1. Paket 3 bulan
2. Paket 6 bulan
Dengan jumlah donasi berkisar antara Rp 25rb hingga Rp 50rb.
Misalnya, saya memilih jumlah donasi Rp 50rb untuk paket 3 bulan. Artinya, setiap bulannya saya akan menyetor Rp 50rb selama 3 bulan, atau Rp 150rb di awal bulan.
Setelah 3 bulan, jika ingin diteruskan kami sangat welcome :)

Transfer kemana donasinya?
Donasi Kakak Asuh ini dapat ditransfer melalui beberapa rekening, yaitu:
Bank Syariah Mandiri an Irma Sela Karlina no rekening 0167173449
BNI an Irma Sela Karlina no rekening 0236067875
BCA an Irma Sela Karlina no rekening 6820421114
Jika sudah transfer, konfirmasi transfer melalui sms 081381991670 atau whatsapp +60193086319 an Qorry.

Donasi akan digunakan untuk apa?
Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah adik-adik Terminal Hujan. Insya Allah tepat sasaran dan amanah :)

Ditunggu partisipasinya ya Kakak semua..
Feel free to share this info to your friends.
Salam Terminal Hujan! :)

Monday, July 15, 2013

Oh... Adnan, Kaisar, dan Maulana! (Oleh Rr. Rahadini Sekar Hapsari)


Artikel kali ini membahas pengalaman seru dari Rr. Rahadini Sekar Hapsari selama mengajar di Terminal Hujan. Pengalamannya bersama dengan tiga bocah lucu dan pintar bernama Adnan, Kaisar, dan Maulana. Yuk kita simak.. 
Halo, kali ini saya akan menulis tentang tiga siswa pre-school Terminal Hujan yang selalu membuat hari Minggu saya lebih ceria, hehehe.. Kenapa tiga anak ini? Karena saya ingat, pertama kali mengajar di Terminal Hujan, saya mendapat tugas mengajar di pre-school dan ketiga anak ini menarik perhatian saya. Kita bahas satu per satu ya:
1. Adnan
Badannya yang tambun membuat sosoknya mudah dikenali dari kejauhan. Selalu berangkat ke Terminal Hujan ditemani oleh ibunya yang setia menunggu sampai waktu belajar selesai. Adnan adalah sosok anak yang ceria, sering tertawa, dan cukup mudah diatur, mungkin karena usianya yang lebih tua dibanding teman-teman sebayanya.
Hobinya membaca, kalau sudah membaca rasanya ingin terus-terusan dan tidak mau berhenti sampai-sampai tanda baca koma atau titik sudah tidak ada artinya. Adnan suka memainkan tablet salah satu kakak pengajar dan bermain games Angry Bird. Salah satu yang membuat saya tertawa adalah saat Adnan bertanya kepada saya seperti ini:
Adnan: “Kak, pilih bubur apa tulang?”
Sekar: “Apa?” *saya kebingungan*
Adnan: “Iya, pilih aja bubur apa tulang?”
Sekar: “Bubur.”
Adnan: “Kakak kecebur, aku pulang! Hahahaha…” *lalu Adnan pergi melengos dengan senyuman puas.*
2. Kaisar
Lain Adnan, lain pula Kaisar. Badannya kecil dengan kulit yang putih, saking putihnya sampai-sampai uratnya terlihat jelas di pipi, hehehe. Kaisar adalah teman baik Adnan, mereka sering terlihat bersama, tapi juga sering bertengkar. Kalau salah satu dari mereka tidak belajar, pasti salah satunya mencari yang lain dan sepanjang belajar terlihat kurang bersemangat.
Kaisar punya semangat belajar yang tinggi. Akan tetapi, jika sedang malas belajar, Kaisar langung melancarkan jurus andalannya: tiduran di lantai dan gak bangun-bangun untuk sekian detik. Yak, jurus pura-pura mati sudah menjadi andalan Kaisar dan sudah jadi langganan para kakak pengajar, hihii. Meskipun begitu, Kaisar selalu semangat kalau sudah diminta mewarnai karena itu adalah salah satu kegiatan favoritnya.
3. Maulana
Nah, kalau yang terakhir ini yang usianya paling kecil, kurang lebih 4 tahun. Maulana, atau biasa dipanggil Maul merupakan salah satu anggota trio pre-school yang mengisi hari Minggu saya. Karena usianya yang paling muda dibanding kedua temannya, Maulana punya karakteristik yang unik. Meskipun paling muda, Maulana selalu berani tampil ke depan untuk memimpin doa sebelum belajar.
Karena kemampuan menggambarnya masih sederhana, ketika menggambar rumah dia mewarnai seluruh rumah dengan warna merah sehingga tidak terlihat yang mana pintu, atap, jendela. Uniknya, ketika ditanya “Kalo pintu yang mana?” dia selalu dengan tegas menjawab, “Ini…” (sambil menunjuk ke satu arah). Lalu saya bertanya lagi, “Kalo jendela?” Dia pun lagi-lagi dengan tegas menjawab, “Yang ini!” (sambil menunjuk ke arah lain). “Ooooo…” Saya mengangguk seolah-olah paham, padahal saya yang lihat kebingungan juga, karena yang ditunjuk ketutupan warna merah semua haha:D
Keceriaan anak-anak pre-school Terminal Hujan ini yang selalu membuat saya bangun pagi di hari Minggu dan bela-belain naik kereta ke Bogor dari Depok. Masih banyak kelucuan mereka yang bikin kakak-kakak geleng kepala karena sama sekali gak kepikiran jokes kaya gitu, misalnya:
“Kamu makan motor ya?” / “Enggak”/ “Kalo gak makan motor kok gendut?”
atau lain lagi;
“Kamu kalo pergi-pergi naik apa?” / “Naik monyet”
Hahahaaha… Ada-ada saja mereka… Menyenangkan banget kan bisa ketemu anak-anak lucu ini sekaligus ngajarin mereka baca, menghitung, dan mewarnai.
Suddenly, all the work load during the last few weeks and the time spent during Jakarta’s daily traffic jam are just… paid off. 
sekar




Yuk main dan kenalan dengan mereka di Terminal Hujan!
Salam Terminal Hujan! (RSH)


Tuesday, July 9, 2013

Those who can, do. Those who can’t, teach (Oleh: Citra Ratu Pratama)

Berawal dari membaca quote ini, saya terinspirasi. Selama ini saya berfikir, saya tidak begitu memiliki kemampuan khusus dan lebih untuk berbuat sesuatu terhadap bangsa ini. Jadilah saya terinspirasi untuk mencoba terjun di dunia mengajar.  Kemudian melalui teman baik yang merupakan founder Terminal Hujan, akhirnya saya mencoba peruntungan saya disini, apakah saya bisa sedikit memiliki andil terhadap bangsa. Gak berharap bakal jadi besar sih, setidaknya memulai dari yang kecil dulu lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?
Memulai dengan menjadi pengajar pendamping di kelas untuk anak usia dini, di hari pertama dan saya sudah mulai berani berfikir bahwa quote yang di populerkan oleh Woody Allen ini adalah keliru. Mengajar tidak segampang yang di fikirkan. Sama sulitnya dengan belajar software terbaru atau belajar menjadi ahli nuklir menurut saya. Menghadapi anak anak yang notabene masi berusia dibawah 5 tahun , untuk mendapatkan perhatian mereka saja tidak gampang. Apalagi ditambah dengan karakter mereka yang berbeda mulai dari yang super aktif sampai yang kalem ada semua, hanya satu kesamaannya, mereka akan gampang terdistraksi. Ahh, Mr Allen harusnya turun ke lapangan dan mencoba menjadi pengajar dulu nih sebelum membuat quote ini, menurut saya.
Seiring berjalannya waktu, selama di terminal hujan saya sudah mencoba menjadi pengajar di beberapa kelas. Di kelas 4, saya bertemu Nur yang perlu pendekatan lebih untuk menarik perhatiannya terhadap proses belajar, karena dia sepertinya sedikit bermasalah dengan rasa percaya diri, Nur selalu merasa takut untuk berbuat salah dan selalu berfikir apa yang di kerjakan olehnya adalah salah dan tidak pernah berani menunjukkan hasil kerja nya. Padahal setelah saya perhatikan diam diam, sebenarnya dia bisa dan yang dia kerjakan tidak sepenuhnya salah. Yang diperlukan bagi Nur adalah metode cara belajar dan pendekatan yang sedikit berbeda dari teman temannya.Nah disini saya berfikir, menjadi guru atau pengajar perlu kemampuan lebih lho, ga sekedar cuma perlu ilmu pengetahuan yang lebih, tapi perlu kreatifitas dan ilmu psikologi juga. Nah lho, lagi lagi Mr Allen coba deh di pikir ulang quote nya. Hehe..
Di Terminal Hujan saya juga harus belajar bagaimana menghadapi dan mengatasi konflik untuk anak yang sudah mulai masuk usia puber lho, ketika menjadi pengajar di kelas 6 bukan cuma harus memotivasi mereka untuk harus belajar dan berprestasi di sekolah, saya juga turut ikut dalam isu isu konflik remaja. Lagi lagi di sini saya benar benar berfikir, menjadi pengajar ga segampang itu, perlu skill up dan juga saya mendapat skill up disini. Disini saya mengajar dan juga belajar.
Nah, buat Mr Allen, saya mohon maaf karena sudah berani lancang, tetapi dari apa yang saya dapat di Terminal Hujan, bukan hanya yang tidak bisa berbuat maka mengajar, tetapi dengan mengajar kita dapat berbuat lebih. Jadi.. Yuk ngajar!
Salam Terminal Hujan! 

The "Invisible" Kids (oleh: Nadhila Olaan Shaami)


Ada anak yang suka banget ngomong, ada juga anak yang sangat pendiam. Begitu juga di Terminal Hujan. Anak-anak Terminal Hujan yang doyan ngomong tipikalnya adalah aktif, PD, cenderung suka merajuk, dan pastinya membuat suasana selalu hidup. Anak-anak pendiam lebih suka duduk dan mengobrol dengan kelompok kecil, tertib, dan kurang PD. Tapi sesungguhnya anak-anak pendiam ini lah yang menyimpan potensi besar untuk berprestasi. Merekalah The ‘Invisible’ Kids, anak-anak yang ‘tak terlihat’.
Tiara dan Adi adalah contohnya. Mereka adalah murid kelas 1 SD yang baru saja naik ke kelas 2. Mereka selalu malu untuk diminta maju ke depan kelas atau mengutarakan pendapat mereka. Ketika ada pelajaran yang tidak dimengerti, mereka lebih suka berjalan menghampiri kakak pengajar daripada mengacungkan tangan dan bertanya dengan lantang. Dengan anak-anak seperti Tiara dan Adi, pengajar harus aktif bertanya apakah mereka bisa, dan memberikan mereka kesempatan lebih banyak untuk menjawab atau menyatakan pendapat.
Seiring dengan berjalannya waktu, terlihat kalau Tiara selalu jadi yang pertama menyelesaikan soal-soal. 8 dari 10 jawaban benar, bahkan bisa benar semua. Ketika yang lain sulit menyelesaikan soal penjumlahan angka puluhan, Tiara sudah bisa sampai angka ratusan. Adi lain lagi. Ia sering tidak PD bahwa ia bisa mengerjakan sebuah soal meski sebenarnya bisa. Ia harus lebih sering dimotivasi dan diberi kepercayaan. Terbukti bahwa seperti halnya Tiara, ternyata Adi bisa menangkap pelajaran dengan lebih cepat dan bahkan membantu teman lainnya.
Memotivasi, mendampingi, dan memberi kepercayaan.
Tiga hal tersebut ternyata dapat membantu The ‘Invisible’ Kids untuk mengeluarkan potensi terpendamnya. Di rumah ataupun sekolahnya, mungkin seringkali mereka ‘tak terlihat’. Baik karena orang tua yang sibuk bekerja, jumlah murid di kelas yang banyak, atau kalah menonjol dari anak-anak yang dominan. Tapi itu tak berarti mereka tidak berpotensi, tak berarti mereka tidak pintar dan rajin. Kenyataannya, mereka adalah anak-anak yang patut dijadikan teladan. Kami, para pengajar di Terminal Hujan, bertugas untuk melihat potensi itu dan mengembangkannya sebaik mungkin.
Di masa depan nanti, bangsa kita bisa saja punya pemimpin yang ketika kanak-kanak menjadi bagian dari The ‘Invisible’ Kids. Motivasi, dampingi, dan beri mereka kepercayaan. It brings out the best in them.
Salam Terminal Hujan!

Monday, July 8, 2013

Bergabung dengan Komunitas Terminal Hujan: Sebuah Pengalaman (oleh: Paska)


Artikel kali ini akan menceritakan pengalaman dari salah satu pengajar tetap di Komunitas Terminal Hujan. Dengan dituliskannya pengalaman bergabungnya dia menjadi pengajar di Terminal Hujan, semoga akan dapat memberikan gambaran betapa mudahnya untuk memberikan kontribusi. Keinginan yang kuat itulah modal awalnya. Yuk kita simak:)
Pada hari minggu tanggal 10 Juni 2012 untuk pertama kalinya aku berkunjung ke Terminal Hujan. Suatu komunitas yang aku tahu melalui suatu stasiun TV swasta. Awalnya aku bingung mau melakukan apa di sana. Jadi, saat datang pertama kali itu aku hanya melihat kegiatan adik-adik yang sedang belajar. Mereka tidak belajar sendiri, melainkan dibantu oleh kakak-kakak pengajar. Kakak-kakak pengajar tersebut membantu adik-adik untuk memahami setiap pelajaran yang sedang dipelajari.
Setelah beberapa jam kemudian kegiatan belajar mengajar pun selesai. Lalu para pengajar berkumpul untuk melakukan evaluasi. Saat evaluasi itu aku berkesempatan memperkenalkan diri dihadapan para pengajar lainnya. Aku menceritakan dari mana aku mengetahui tentang komunitas Terminal Hujan ini. Aku pun mengutarakan bahwa aku berminat mengajar setiap minggunya di Terminal Hujan. Karena ini adalah suatu keinginan sejak lama, di mana aku ingin bisa berbagi ilmu dengan adik-adik seperti yang ada di Terminal Hujan. Alhamdulillah ketika mengetahui ada komunitas Terminal Hujan ini, maka aku sangat senang dan tertarik untuk bergabung di dalamnya.
Minggu-minggu selanjutnya aku rutin datang ke Terminal Hujan. Walaupun kadang ada beberapa minggu yang aku tidak bisa datang dikarenakan ada acara lain. Pertama kali mengajar aku ditempatkan di kelas 2. Karena background aku bukan seorang pengajar/guru, jadi saat mengajari adik-adik Terminal Hujan ada rasa grogi dan takut salah. Tapi lama kelamaan aku bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Kegiatan belajar mengajar pun berlangsung sangat menyenangkan. Mendengar pertanyaan adik-adik yang bingung dengan pelajaran yang sedang dipelajari. Lalu mengajari mereka hingga paham. Terkadang suka ada yang curhat tentang kegiatannya di sekolah. Celotehan mereka membuat suasana menyenangkan dan tidak kaku.
Setelah rutin menjadi volunteer Terminal Hujan di bulan Juli aku berkesempatan mengikuti ajang Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Bogor 2012. Kegiatanku menjadi bertambah padat. Tapi walaupun begitu mengajar di Terminal Hujan menjadi kegiatan prioritas ku pada hari minggu. Berkat doa dari adik-adik Terminal Hujan, alhamdulillah aku menjadi finalis di ajang tersebut.
Seiring waktu berjalan, tidak terasa sudah satu tahun aku bergabung dengan komunitas Terminal Hujan. Banyak pengalaman yang aku dapatkan di sini, misalnya pengalaman mengajar, memahami adik-adik dengan karakter yang berbeda-beda, memahami apa yang menjadi keinginan mereka saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, dan pengalaman-pengalaman menarik lainnya. Semoga ke depannya aku bisa lebih berkontribusi lagi dalam kegiatan-kegiatan Terminal Hujan.
Aku pun berdoa semoga kelak adik-adik Terminal Hujan bisa mencapai cita-cita yang mereka inginkan dan menjadi anak-anak cerdas agar bisa membangun bangsa ini menjadi negara yang maju. Amin.
Salam Perubahan!

Saturday, July 6, 2013

Belajar Tidak Sebatas Calistung (Oleh Indah Larasati)


Anak-anak usia dini usia 3 – 5 tahun sering kali disebut anak pada usia Golden Age, yaitu dimana kemampuan otak untuk menyerap informasi memiliki beberapa kali lipat dibandingkkan pada usia level lainnya. Oleh karena itu anak-anak pada usia ini harus mendapatkan stimulus dan masukan atau input-input positif dan benar sehingga dapat menstimulasi semua aspek untuk dapat   tumbuh dan berkembang secara maksimal. Stimulus atau input positif yang dibicarakan disini bukan hanya kaitannya dengan bidang akademik seperti  kemampuan calistung atau baca tulis hitung yang akhir-akhir ini sangat populer di kalangan ibu-ibu dengan anak balita. Biasanya para orang tua hanya terpaku dalam melatih kemampuan tersebut. Hal ini dikarenakan ketrampilan  tersebut  merupakan salah satu persyaratan untuk memasuki TK atau sekolah dasar. Padahal untuk sampai kepada keterampilan tersebut, anak perlu dipersiapkan kematangan dalam kemapuan dasarnya seperti aspek motorik kasar dan motorik halus. Disamping itu ada beberapa aspek yang berkaitan dengan kemampuan dasar tersebut seperti kemampuan pemahaman konsep dasar, komunikasi dan sosialisasi. Menurut Elizabeth B. Hurlock perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar di seputar penguasaan dan pengendalian lingkungan. Anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku social sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu.
Berdasarkan fenomena diatas, dalam pembuatan kurikulum untuk pendidikan pre school di Terminal Hujan, kami mencoba untuk mempertimbangkan aspek-aspek kemampuan dasar tadi, tidak hanya di tekankan kepada kemampuan atau keterampilan “calistung”. Aspek-aspek lain yang akan dikembangkan seperti aspek kemandirian aspek emosi dan afeksi anak juga milai-nilai positif seperti saling menyayangi dan menghargai. Hal itulah yang diusung dalam kurikulum pre school Terminal Hujan. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pre school Terminal Hujan, kegiatan pre school selalu di awali dengan kegiatan morning circle dalam kegiatan tersebut anak di ajak untuk mengenali emosi yang mereka rasakan seperti senang, sedih serta alasan mengapa merasa demikian. Kegatan tersebut bertujuan untuk membangun suasana belajar, agar mereka lebih siap dalam mengikuti proses pembelajaran tahap-tahap berikutnya. Ketika mereka keluar dari rumah tidak semua anak-anak memiliki pengalaman yang positif seperti keadaan sedih, marah. Dengan adanya aktivitas dalam kelompok, mereka memiliki kesempatan untuk mengeluarkan “uneg-uneg” nya kepda teman-teman.
Sementara peran fasilitator  memberikan mediasi bagi masing-masing anak-anak.  Selain itu, dengan adanya interkasi dalam kelompok, suasana hati mereka menjadi lebih cair dan mereka siap untuk mengikitu proses bermain dan belajar pada jam berikutnya. Selain itu perbincangan tersebut menjadi media mereka untuk mengenali tingkah laku positif yang dapat memberikan mereka emosi positif, seperti pagi ini merasa senang karena akan bermain dan belajar di terminal hujan atau merasa sedih karena tadi dipukul oleh temannya. Kegiatan morning circle ini juga menjadi ajang perkenalan bagi murid-murid baru, anak-anak pre school di ajak untuk tidak malu dan berani untuk berkenalan dengan orang baru. Kemudian dalam aktifitas pembelajaran mereka juga di ajarkan untuk membantu teman yang kesulitan dengan memuji mereka ketika melakukan aktifitas tersebut. Pujian yang diberikan kepada anak juga lebih ditekankan ketika mereka memunculkan tingkah laku positif tersebut seperti membantu teman, berkenalan dengan teman baru, membereskan kembali peralatan, dan sebagainya.
Beberapa orang mengatakan bahwa anak merupakan generasi penerus. Kami sangat setuju dengan pendapat tersebut. Kami percaya bahwa masa depan yang lebih baik dapat dicapai jika kita memiliki generasi penerus yang baik pula. Perkembangan yang optimum bisa dicapai jika kita memberikan stimulus yang seimbang pada tiap-tiap aspek perkembangan anak. Oleh karena itu dalam memberikan stimulus untuk perkembangan anak jangan juga kita melupakan tugas perkembangan anak yang lain. Jangan sampai kita merampas hak-hak mereka untuk dapat bermain dan mengeksplorasi lingkungan sebagai media pembelajaran mereka  pada tahapan umur tersebut.
Jika bukan kita siapa lagi?
Jika bukan dari sekarang lantas kapan?
Salam Terminal Hujan! :)

Thursday, July 4, 2013

Cita-Cita (Oleh Biko Gilang Kahfi)


                                                                                                     
“Mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kalimat tersebut mungkin terlalu mewah untuk dijadikan sebagai sebuah cita-cita. Tapi ia bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Karena ia sesungguhnya berangkat dari hal sederhana: peduli terhadap sesama.

Pendidikan adalah proses transfer ilmu. Tidak harus selalu di dalam kelas, tidak harus selalu di sekolah, karena pendidikan sejatinya berawal dari lingkungan rumah, keluarga. Pendidikan di sekolah harus didukung oleh pendidikan luar sekolah. Karena jika pendidikan di luar sekolah tidak berjalan sinergis dengan pendidikan di sekolah, akan terjadi proses yang saling menafikan.

Pendidikan yang terjadi haruslah menyadarkan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk menjadi apapun yang mereka mau. Setiap anak harus memiliki kesadaran bahwa mereka harus sekolah sampai jenjang yang paling tinggi, tidak terbatas oleh larangan teman, keluarga, orang tua apalagi karena masalah finansial. Dan tidak berhenti sampai ingin terus bersekolah, tetapi setiap anak harus berani untuk bermimpi, bernai untuk mempunyai cita-cita. Cita-cita yang mereka yakini dapat terwujud sehingga akan mereka kejar dengan semangat yang pantang menyerah.

Pendidikan yang terjadi di Terminal Hujan menggunakan prinsip kakak dan adik. Setiap pengajar dapat berperan sebagai guru dan panutan bagi adik-adiknya sekaligus menjadi orang yang dekat dengan adik-adik sehingga mereka mau berbagi cerita, layaknya seorang kakak. Dan tugas seorang kakak pulalah, untuk selalu melidungi adik dari pengaruh buruk, dalam hal ini adalah ide bahwa lebih baik mencari uang daripada sekolah. Karena bagi adik-adik Terminal Hujan, pergaulan di jalanan sangatlah dekat dengan mereka. Mengamen, ojek hujan, merupakan kegiatan yang lazim bagi mereka. Menyenangkan dan menghasilkan uang. Di sini lah peran Terminal Hujan, untuk selalu mengingatkan bahwa mereka harus tetap belajar, mereka harus terus memperoleh pendidikan dan tidak memilih untuk hidup di jalanan. Karena dunia jalanan, mau tidak mau sangat erat dengan putus sekolah, narkoba, dan masa depan yang tidak terarah.

Berangkat dari rasa peduli terhadap sesama, terciptalah cita-cita agar setiap anak di Terminal Hujan, anak-anak di seluruh bangsa ini dapat merasakan pendidikan tanpa terkecuali. Agar setiap anak dapat mengejar cita-cita mereka. Dan semoga nantinya, setiap anak di negeri ini akan memiliki cita-cita yang lebih besar lagi, cita-cita untuk membangun bangsa Indonesia. Semoga.

Salam Terminal Hujan!

2 + 1 (Oleh Anggun Pesona Intan Puspita)


Suatu ketika saat repat evaluasi rutin sesudah mengajar, kami dibuat tercengang oleh laporan salah satu pengajar kelas 1. Dia menceritakan sebuah kisah lucu, yang tapi terasa mengiris-ngiris hati dan menbuat para pengajar, khususnya saya, gelisah hingga saat ini.
Sang pengajar tersebut, bernama Arifin, seorang dokter hewan yang kebetulan sedang senggang dan baru sekali datang untuk mengajar adik-adik Terminal Hujan, ditugaskan untuk mengajar kelas 1. Saat itu, dia mencoba mengajarkan konsep penjumlahan sederhana kepada siswa-siswi kelas 1 SD (di Terminal Hujan, kami membagi kelompok belajar menurut kelas akademik di sekolah). Dikarenakan sangat sederhana, Kak Arifin dengan sengaja membolak-balik angka untuk mengetahui sejauh mana adik-adik paham dengan konsep penjumlahan yang telah diajarkan. Di sinilah letak kelucuan itu terjadi. Saat Kak Arifin mencoba berdialog dengan salah satu anak, yaitu Obi.
Arifin : “1 + 2 sama dengan berapa?”
Obi : *menghitung dengan jarinya* “3 kak!!”
Arifin : “Pintar! Sekarang 2 + 1 berapa?”
Obi : *memejamkan mata, berpikir keras *gagal menjawab
Sontak kami semua tertawa terbahak-bahak saat Arifin melaporkan hasil pengajarannya hari itu, namun saya merasa seperti teriris sembilu. Dalam hati saya “Ya ampun, itu angka tinggal dibalik gituh? Belum mengertikah mereka dengan konsep ini??”. Pikiran tersebut pada akhirnya membuat saya berpikir kembali merefleksikan pengalaman-pengalaman saya, teman, dan saat saya menjadi pengajar. Ya. Kenapa siswa-siswi kita, bahkan mahasiswa masih terjebak dengan pola menghafal? Sepertinya menghafal adalah sudah keharusan kalau mau mendapat nilai baik. Belajar memiliki makna mengerti, memehami, dan mengimplementasi, bukan hanya memorisasi fakta dan konsep.
Jangan salahkan guru dan orangtua yang megajarkan anak sehingga hafalan sudah mendarah daging, sistem pendidikan kita sejak dulu seperti itu, sehingga timbul banyak generasi-generasi penghafal dengan beban pelajaran yang banyak. Yang lebih menyedihkan lagi, coba tanya mereka apa makna Luas dan Keliling? Atau konsep-konsep sederhana seperti makna perkalian. Dijamin, bagi adik-adik, khususnya yang belum bisa menikmati pendidikan yang sesungguhnya, akan menggeleng dan memejamkan mata seperti Obi.
Lalu siapa yang bertanggung jawab bagi kelangsungan pendidikan mereka?
Kita.
Siapa lagi?
Salam Terminal Hujan! 

Komitmen dan Konsistensi (Oleh Irma Sela Karlina)


Ada dua hal penting yang dapat dipelajari dalam mengembangkan gerakan sosial seperti Terminal Hujan; komitmen dan konsistensi. Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, komitmen merupakan perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan konsistensi berarti ketetapan dan kemantapan di dalam bertindak.
Dalam implementasinya di Terminal Hujan, komitmen berarti bersedia membagi waktu, satu hari dalam seminggu, untuk berbagi ilmu. Berkomitmen mengajar baca, tulis, hitung. Berkomitmen menanamkan nilai-nilai positif untuk pembetukan karakter positif.
6




Konsisten memberikan metode pembelajaran yang menyenangkan. Konsisten memberikan yang terbaik disetiap kegiatannya. Konsisten untuk terus berbagi ilmu, dimanapun tempatnya, apapun kondisinya.
8




Komitmen dan konsistensi, dua hal yang harus terus ada, harus terus dijaga. Caranya? Dengan meluangkan waktu, minimal satu kali dalam seminggu, berbagi ilmu. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk mereka.
9




“Semoga Tuhan memberikan kemampuan lebih bagi tangan-tangan kita untuk berbuat.” berbuat untuk kebaikan, terutama dalam bidang pendidikan.

Salam Perubahan!