Tuesday, July 9, 2013

The "Invisible" Kids (oleh: Nadhila Olaan Shaami)


Ada anak yang suka banget ngomong, ada juga anak yang sangat pendiam. Begitu juga di Terminal Hujan. Anak-anak Terminal Hujan yang doyan ngomong tipikalnya adalah aktif, PD, cenderung suka merajuk, dan pastinya membuat suasana selalu hidup. Anak-anak pendiam lebih suka duduk dan mengobrol dengan kelompok kecil, tertib, dan kurang PD. Tapi sesungguhnya anak-anak pendiam ini lah yang menyimpan potensi besar untuk berprestasi. Merekalah The ‘Invisible’ Kids, anak-anak yang ‘tak terlihat’.
Tiara dan Adi adalah contohnya. Mereka adalah murid kelas 1 SD yang baru saja naik ke kelas 2. Mereka selalu malu untuk diminta maju ke depan kelas atau mengutarakan pendapat mereka. Ketika ada pelajaran yang tidak dimengerti, mereka lebih suka berjalan menghampiri kakak pengajar daripada mengacungkan tangan dan bertanya dengan lantang. Dengan anak-anak seperti Tiara dan Adi, pengajar harus aktif bertanya apakah mereka bisa, dan memberikan mereka kesempatan lebih banyak untuk menjawab atau menyatakan pendapat.
Seiring dengan berjalannya waktu, terlihat kalau Tiara selalu jadi yang pertama menyelesaikan soal-soal. 8 dari 10 jawaban benar, bahkan bisa benar semua. Ketika yang lain sulit menyelesaikan soal penjumlahan angka puluhan, Tiara sudah bisa sampai angka ratusan. Adi lain lagi. Ia sering tidak PD bahwa ia bisa mengerjakan sebuah soal meski sebenarnya bisa. Ia harus lebih sering dimotivasi dan diberi kepercayaan. Terbukti bahwa seperti halnya Tiara, ternyata Adi bisa menangkap pelajaran dengan lebih cepat dan bahkan membantu teman lainnya.
Memotivasi, mendampingi, dan memberi kepercayaan.
Tiga hal tersebut ternyata dapat membantu The ‘Invisible’ Kids untuk mengeluarkan potensi terpendamnya. Di rumah ataupun sekolahnya, mungkin seringkali mereka ‘tak terlihat’. Baik karena orang tua yang sibuk bekerja, jumlah murid di kelas yang banyak, atau kalah menonjol dari anak-anak yang dominan. Tapi itu tak berarti mereka tidak berpotensi, tak berarti mereka tidak pintar dan rajin. Kenyataannya, mereka adalah anak-anak yang patut dijadikan teladan. Kami, para pengajar di Terminal Hujan, bertugas untuk melihat potensi itu dan mengembangkannya sebaik mungkin.
Di masa depan nanti, bangsa kita bisa saja punya pemimpin yang ketika kanak-kanak menjadi bagian dari The ‘Invisible’ Kids. Motivasi, dampingi, dan beri mereka kepercayaan. It brings out the best in them.
Salam Terminal Hujan!

No comments:

Post a Comment